BERTUMBUH DAN BERKEMBANG dalam “LIMA ROTI DUA IKAN”

SERI 2 : KECAKAPAN LITERASI 

Oleh: St. Haryanto

 

Sobat Krismit yang budiman, abad ke-21 kita kenal sebagai era teknologi. Semua aspek kehidupan  berkembang dan berubah sangat cepat dan penuh kejutan. Siapa pun dan lembaga mana pun yang tidak bisa beradaptasi dengan cepat akan terhempas secara alami.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi ini tanpa kita duga sama sekali tiba-tiba muncul pandemi covid-19 yang tidak kunjung usai. Tidak bisa kita pungkiri, pandemi ini telah ikut andil dalam merubah segalanya menjadi semakin cepat. Selain meluluh-lantakkan seluruh sendi-sendi kehidupan di seluruh dunia, pandemi telah mengubah pola pikir, pola sikap, dan pola tindak orang di berbagai belahan dunia.

Masihkah kita ingin bersantai-santai saja dan asyik bernostalgia dengan masa lalu? Tentu saja tidak, kita mesti selalu mengupgrade diri, memantaskan diri, atau melayakkan diri agar siap berkiprah di dunia yang tunggang langgang dan bergerak serba cepat ini. Lalu, kita akan memulai dari mana? Ingat sobat….”Aja gampang gumunan lan aja gampang kagetan” artinya jangan mudah terheran-heran dan sedikit-sedikit terkejut.

Untuk bisa mendampingi para siswa agar bisa memiliki kecakapan berpikir kritis dan kreatif serta mampu melakukan komunikasi dan kolaborasi para pendidik mestinya sadar diri bahwa mereka harus melayakkan diri untuk menjadi orang yang literat. Nah… disinilah kita harus tahu, apa maksud dari seorang literat? Seseorang dikatakan literat jika ia sudah bisa memahami sesuatu karena membaca informasi yang tepat dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahamannya terhadap bacaan tersebut.

Sobat Krismit….selain menjadi seorang literat ternyata kita juga dituntut menjadi seorang numerat. Apa lagi ini? Menjadi numerat, yaitu  memiliki keterampilan numerasi yang baik, melibatkan lebih dari sekedar menguasai matematika dasar saja, tetapi dapat menghubungkan matematika yang dipelajari di sekolah dengan situasi di luar sekolah yang juga membutuhkan pemecahan masalah dan penilain kritis dalam nonmatematika.

 

Nah….sekarang saatnya kita semua untuk berubah dan berbenah agar berbuah. Untuk bisa memberikan penguatan literasi membaca dan dan numerasi kepada anak-anak kita, perlu modifikasi bahan ajar sebagai salah satu bentuk strateginya. Selamat menjadi seorang literat dan numerat yang kritis. Tuhan memberkati.