SERI KARAKTER (3) : Hindari Keracunan “Ego”

Tidak bisa dipungkiri, seseorang yang mengonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri, virus atau parasit  tentu akan mengalami keracunan. Gejalanya bisa bermacam-macam, misalnya mual, sakit kepala, gata-gatal dan lain-lain tergantung kekebalan tubuh seseorang. Intinya orang yang mengalami keracunan tubuhnya tidak fit lagi, sistem metabolisme tidak berjalan semestinya bahkan bisa menimbulkan komplikasi sehingga orang itu mengalami dehidrasi berat dan mengancam jiwanya.

Dalam perilaku kehidupan manusia, racun biasanya dilawankan dengan madu. Madu diidentikkan dengan perilaku yang baik, yang penuh hikmat dan mendatangkan kesejukan atau kenyamanan relasi dengan orang lain. Sebaliknya, racun diidentikkan dengan perilaku seseorang yang merugikan atau menimbulkan petaka bagi orang lain. Ada ungkapan yang menarik: “Orang yang dendam sama artinya dengan orang yang menenggak racun namun berharap orang lain celaka.”

Dalam kaitannya relasi antara seseorang dengan orang lain egois juga bisa dikatakan sebagai “Racun kehidupan”. Mengapa? Karena membuat orang lain tidak nyaman, terganggu, dan dirugikan. Demikian pula ketika seseorang berada dalam sebuah komunitas atau badan atau lembaga tertentu. Sebagai bagian dari sebuah lembaga atau komunitas ego seseorang akan mempengaruhi budaya kerja dan berakibat pada kredibilitas lembaga tersebut. Dalam lingkup keluarga pun juga bisa terjadi demikian, ke-egoisan salah satu anggota keluarga baik anak maupun orang tua akan berpengaruh besar terhadap keharmonisan keluarga.

 

 

 

Banyak kejadian-kejadian konkrit di sekitar kita yang menunjukkan ego seseorang. Sebagai contoh: dalam sebuah antrian panjang tiba-tiba ada seseorang yang baru datang dan menyerobot di tengah dengan alasan segera ada keperluan lain yang penting, mendesak dan lain-lain. Dalam sebuah tim kerja, seseorang tidak mau membantu untuk melaksanakan tugas tertentu karena masih sibuk menyelesaikan pekerjaan A, pekerjaan B, dan alasan-alasan lain yang intinya enggan untuk membantu takut pekerjaan dirinya terbengkelai. Padahal ini soal manajemen waktu orang itu sendiri yang sebenarnya bisa diatasi asalkan ada kesadaran dan kemauan.

 

 

 

 

Dalam sebuah keluarga sifat ego orang tua sebagai suami-istri bisa menjadi pemicu perpecahan rumah tangga. Sifat ego seorang anak jelas akan mengganggu keharmonisan keluarga dan akan merugikan anak itu sendiri dalam proses pertumbuhannya. Dalam sebuah lembaga dan komunitas, ego itu akan menjadi bibit permasalahan yang bisa menjadi semakin besar dan merusaknya. Mari kita buang jauh-jauh sikap ego kita supaya tidak meracuni diri sendiri dan orang lain. Bersatu kita mampu bersama kita bisa.

 

“SATUKAN HATI-ASAH NURANI”

 

St. Haryanto, S.Si., M.M.

Penulis adalah Kepala SMP Krista Mitra sekaligus Guru Pengampu mata pelajaran Matematika.