SERI KARAKTER (4) : Tersandera “BAPER”

Dalam pergaulan kita sehari-hari sering kali kita dengar bahkan kita sudah akrab dengan ucapan-ucapan tentang “Baper”. Misalnya, :”Ah…dikit-dikit baper”, “Gitu aja baper”, “Jadi orang jangan baperan deh….” dan masih banyak lagi. Seolah-olah kata “Baper” menjadi kata yang memang cocok dilontarkan bagi orang-orang yang sedang galau, hatinya sangat kacau, sulit mengambil keputusan, dan bingung. Bagi kaum remaja dan anak muda biasanya baper ini diidentikkan dengan suasana hati yang sedang kacau balau karena anak muda tersebut sedang “ada rasa” dengan lawan jenis pujaan hatinya. Ada yang tidak konsentrasi belajarnya, ada yang berubah menjadi pemarah, murung, bahkan tidak mau makan.

Dalam perkembangannya ternyata kata “Baper” juga sering disematkan pada orang yang mudah tersinggung, tidak mau kalah atau tersaingi, ingin selalu dinomor-satukan, dan “Gila status”. Orang yang “Gila status” inginnya selalu dipuja dan dipuji. Dalam hal apa pun dia harus yang pertama dan orang lain baru nomor berikutnya . Coba amati orang-orang di sekeliling kita apakah benar demikian? Eit…jangan lupa coba lihat diri kita sendiri; bercerminlah pada diri kita sendiri. Kita ini termasuk kategori orang “Baper” yang demikian atau tidak?

Sobat Krismit yang keren dan oke poenya….., perlu dipahami dan disadari bahwa orang yang “Baperan” itu merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Mengapa demikan? Karena gara-gara “Baperan” seseorang menjadi tidak memiliki banyak teman, sulit bekerja sama dengan orang lain, sulit menerima kritik, menganggap diri jauh lebih baik dari orang lain, selalu curiga, dan masih banyak lagi hal-hal lain yang membuat orang-orang di sekitarnya tidak nyaman. Anda tentu pernah mendengar istilah “Wanita sulit” atau “Pria sulit”. Nah, itulah salah satu akibat dari “Baperan” itu.

Sobat Krismit yang budiman, melalui tulisan ini kita diingatkan dan diajak untuk tidak tersandera “Baper”. Baik sebagai anak, sebagai orang muda, sebagai orang tua, sebagai bagian dari warga masyarakat umum, sebagai seorang pegawai di sebuah instansi pemerintah/swasta marilah luangkan kesempatan untuk me-reshaping diri untuk berubah dan berbuah. Semoga!

 

“SATUKAN HATI-ASAH NURANI”

 

St. Haryanto, S.Si., M.M.

Penulis adalah Kepala SMP Krista Mitra sekaligus Guru Pengampu mata pelajaran Matematika.