Oleh: St Haryanto, S.Si., M.M (Kepala SMP Krista Mitra)
Sobat Krismit tentu mengenal penyakit yang sering dialami oleh orang-orang di sekitar kita atau bahkan kita alami sendiri. Ada penyakit yang ringan dan ada pula penyakit berat atau ganas yang mengancam jiwa seseorang. Apa pun penyakitnya, ringan atau berat pasti penyakit itu sangat mengganggu jalannya roda kehidupan ini. Oleh karena itu, setiap orang tidak ingin ada penyakit dalam dirinya. Kalau terlanjur sakit maka segala daya upaya ditempuh demi kesembuhan dan hilangnya penyakit tersebut. Bisa jadi, harta seseorang yang sudah dikumpulkan sekian lama rela dikurbankan bahkan terkikis habis demi hilangnya penyakit yang ada dalam tubuhnya.
Penyakit ternyata tidak hanya menggerogoti jiwa seseorang tetapi ada pula penyakit yang melanda institusi-institusi negeri maupun swasta, yang dalam hal ini saya istilahkan sebagai “Penyakit” Perkantoran. Artinya, pola tingkah orang-orang dalam institusi itu yang mengganggu jalannya roda perkantoran. Sebagaimana yang dialamai oleh seseorang, penyakit perkantoran ada yang ringan dan ada yang berat/ganas sehingga mengancam kematian/kebangkrutan institusi/lembaga itu.
Orang sering menggolongkan penyakit kudis sebagai penyakit yang ringan dan biasa-biasa saja, sedangkan sakit ginjal termasuk dalam kategori sakit berat. Namun, dalam konteks perkantoran menurut hemat penulis kedua penyakit ini tergolong penyakit berat dan harus distop/dihentikan. Dalam hal ini “KUDIS” adalah KUrang DISiplin dan “GINJAL” adalah Gaji Ingin Naik kerJAnya Lambat. Dua penyakit perkantoran itu tentu sudah sering kita dengar, kita lihat, dan kita rasakan bukan?
Sobat Krismit di mana pun Anda berada dan siapa pun Anda tentu sepakat bahwa dua penyakit itu, yaitu “KUDIS” dan “GINJAL” perkantoran tidak boleh ada dalam institusi/lembaga yang kita punya. Mengapa? Karena sangat mengganggu dan jika tidak segera disembuhkan akan membuat institusi kita pelan-pelan mengalami kebangkrutan. Lalu siapa yang harus bertanggung jawab atas ini semua? Tentu semua orang yang terlibat di dalam institusi/lembaga itu tanpa kecuali. Ada pepatah: Bersama Kita Bisa, Bersatu Kita Mampu.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengajak Anda semua merefleksi diri. Mari kita membaca dan merenungkan ulang Amsal 10: 4 yang mengatakan demikian: Tangan yang lamban membuat miskin tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya. Salah satu refleksi singkat yang bisa kita ambil dari ayat ini adalah bahwa hanya orang rajin dan cekatan yang akan diingat oleh pimpinannya, terutama waktu menetapkan promosi jabatan dan kenaikan gaji. Maka dari itu marilah bekerja dengan rajin dan jangan berlamban-lamban atau menunda-nunda pekerjaan.
Berikutnya mari kita renungkan juga Amsal 19: 20, Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan. Ayat ini mengingatkan kita semua untuk tidak bosan-bosan mencari ilmu pengetahuan serta bekerja yang benar dan efisien. Tanpa pengetahuan kerajinan yang kita lakukan tidak tepat sasaran dan ketergesa-gesaan hanya akan membuat seseorang salah langkah. Kemudian jangan sungkan meminta petunjuk jika tidak mengerti.
Salam dahsyat penuh berkat




